EfSD pertama kali dincetuskan oleh Prof. Dr. Hans J. A. Van Ginkel, mantan rektor United Nations (UN) University dan Staf Ahli Sekjen UN. EfSD lahir dilatarbelakangi kondisi dunia kontemporer yang menghadapi persoalan makin kompleks dan mengarah pada situasi chaos. Hal ini terlihat dari makin meningkatnya pertumbuhan populasi dunia melebihi kapasitas produktivitas natural bumi. Semakin cepatnya perkembangan komunikasi dan transportasi, melahirkan sejumlah masalah besar dalam hal globalisasi, perdagangan, lingkungan, pembangunan, dan kemiskinan. Melalui EfSD diharapkan terbangun kapasitas komunitas atau bangsa yang mampu membangun, mengembangkan, dan mengimplementasikan rencana kegiatan yang mengarah kepada sustainable development.
Apa itu EfSD ?
EfSD adalah Pendidikan yang mempunyai wawasan dan konsep yang lebih luas daripada sekedar pendidikan tentang lingkungan karena meliputi hubungan sebab dan akibat, dan cara pengatasannya. EfSD Bukanlah tentang pendidikan pengembangan yang berkelanjutan, melainkan pendidikan untuk mendukung pengembangan berkelanjutan. EfSD adalah pendidikan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, yaitu pendidikan yang memberi kesadaran dan kemampuan kepada semua orang terutama generasi mendatang untuk berkontribusi lebih baik bagi pengembangan berkelanjutan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Apa Fungsi dan Manfaatnya?
EfSD menekankan pada 3 pilar yaitu ekonomi, ekologi atau lingkungan, dan sosial. Fungsi dan manfat EfSD yaitu,
pertama, terbangunnya kapasitas komunitas/bangsa yang mampu membangun, mengembangkan, dan mengimplementasikan rencana kegiatan yang mengarah kepada sustainable development, yaitu kegiatan yang mendukung pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan ekosistem. Kedua, mendidik manusia agar sadar tentang individual responsibility yang harus dikontribusikan, menghormati hak-hak orang lain, alam dan diversitas, dapat menentukan pilihan/keputusan yang bertanggungjawab, dan mampu mengartikulasikan semua itu dalam tindakan nyata. Ketiga, menumbuhkan komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, dunia yang lebih aman dan nyaman, baik sekarang maupun di masa mendatang.
Bagaimana EfSD di Indonesia ?
Ada asumsi bahwa EfSD seolah mengikuti prinsip TEPA SALIRA. Artinya menjunjung tinggi BUDI PEKERTI. Kalau kita bisa berlaku baik terhadap lingkungan sekitar maka kita juga akan diberi kebaikan oleh lingkungan. Kalau sudah mempunyai ekonomi yang baik, maka harus memperhatikan lingkungan sekitar, artinya jiwa sosial jangan ditinggalkan. Maka jika manusia bisa menerapkan tepa salira tidak akan terjadi ketidakseimbangan yang mengguncangkan dunia. Boleh memanfaatkan alam asal jangan dikuras habis. Boleh jadi orang kaya asal ingat yang belum kaya. Semua itu harus dijaga dengan sistem TEPA SALIRA agar kehidupan damai dan teratur tetap terwujud.Sementara itu peran orang tua yang pandai dan paham aturan kehidupan sangat dibutuhkan.Jika dikaitkan dengan konsep EfSD, maka peran orang tua yang santun, pandai dan bersahaja dianggap sebagai pendamping kegiatan/kehidupan. COba kalau tidak ada pendamping, maka orang muda akan semena-semena terhadap kombinasi ekonomi, lingkungan dan sosial. Nah begitulah kira-kira EfSD di Indonesia.
Apa komentar penulis?
EfSD merupakan hal bagus namun saya harap bukan hanya jadi simbol atau semboyan saja namun dapat di terapkan di bagian wilayah mana saja sehingga adanya satu kesatuan setiap masyarakat di bumi J
Sources:
lppm.ugm.ac.id/lppm-highlights/6

